3 Tingkat orang berilmu

Ada 3 tingkatan orang berilmu yaitu:

1. Orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan orang itu merasa pintar

2. Orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan seseorang itu disukai Allah dan dicintai orang

3. Orang berilmu yang dengan ilmunya menjadikan dirinya semakin tidak tahu apa-apa.

Tingkatan pertama akan menjadikan seseorang itu sombong, sementara yang kedua akan menjadikan seseorang itu tawadhu, rendah hati dengan sikap semakin berilmu semakin merunduk (ilmu padi).

Sementara orang berilmu yang ke tiga akan menjadikan dirinya menjadi tidak tahu apa-apa, dirinya merasa bodoh. Dirinya tiada puas dalam menuntut ilmu, semakin digali ilmuNya maka semakin nampaklah kebodohan dirinya dihadapan Allah SWT.

Orang yang berilmu yang ketiga, dia menyadari ilmu yang diberikan adalah hanya setetes dari lautan samudera. Walaupun setetes dia sudah sangat bersyukur karena dapat merasakan buah atau makrifat / kelezatan ilmuNya. Bagaimana ilmu Allah itu? Keluasan Ilmu Allah adalah seperti diuraikan dalam Al Quran sebagai berikut :

Firman Allah : Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Luqman : 27)

Advertisements

Cara Alam menghibur kita

Pernahkah kita mengalami ketika hujan deras mengguyur, kita lupa membawa payung. Lalu kita pun berbasah kuyup kedinginan. Namun, ketika kita siapkan jas hujan, justru panas dan terik datang membakar hari. Sebalkah?

Atau mungkin kita pernah terburu-buru mengejar waktu, tetapi perjalanan malah tersendat, seolah membiarkan kita terlambat. Namun, ketika kita ingin melaju dengan tenang, pengendara lain malah membunyikan klakson agar kita mempercepat langkah. Sebalkah?

Mengapa keadaan seringkali tidak bersahabat? Mereka seakan meledek, mengecoh, bahkan tertawa terbahak-bahak. Inikah yang disebut dengan “ketidakmujuran”?
Sadari saja, itu adalah cara alam menghibur kita. Itulah cara alam mengajak kita tersenyum, menertawakan diri kita sendiri, dan bergurau secara nyata.

Kejengkelan itu muncul dari karena kita tak mencoba bersahabat dengan keadaan. Kita hanya mementingkan diri sendiri.

Kita lupa bahwa jika toh keinginan kita tidak tercapai, tak ada salahnya kita menyambutnya dengan senyum, meski secara kecut

The Elepant Rope

Ketika seorang pria berjalan melewati sekumpulan gajah, ia tiba-tiba berhenti. Ia bingung dengan fakta bahwa makhluk-makhluk besar itu sedang diikat hanya dengan sebuah tali kecil yang terikat pada kaki depan mereka. Tidak ada rantai, tidak ada kandang. Jelas sekali bahwa gajah bisa melepaskan diri dari ikatan mereka kapan saja. Tetapi entah untuk beberapa alasan, mereka tidak melakukannya.

Dia melihat seorang pelatih di dekatnya dan bertanya kepada pelatih tersebut. “Mengapa hewan-hewan itu hanya berdiri di sana dan tidak berusaha untuk melarikan diri?”

“Yah, ketika mereka masih sangat muda dan jauh lebih kecil, kami menggunakan ukuran tali yang sama untuk mengikat mereka. Dan, pada usia tersebut, tali itu sudah cukup untuk menahan mereka. Saat mereka tumbuh dewasa, mereka dikondisikan untuk percaya bahwa mereka tidak dapat melepaskan diri. Mereka percaya bahwa tali tersebut masih bisa menahan mereka, sehingga mereka tidak pernah mencoba untuk membebaskan diri. ” Begitu penjelasan dari pelatih gajah tersebut.

Pria itu kagum. Hewan-hewan ini bisa saja setiap saat membebaskan diri dari ikatan tali mereka. Tetapi karena mereka percaya bahwa mereka tidak bisa, mereka terjebak tepat dimana mereka berada.

Seperti gajah, berapa banyak dari kita yang menjalani hidup tergantung pada suatu keyakinan bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu, hanya karena kita gagal sekali sebelumnya?

Kegagalan adalah bagian dari pembelajaran. Kita tidak boleh menyerah untuk berjuang di dalam hidup anda.

Manajemen Stres

Manajemen stres adalah kemampuan penggunaan sumber daya (manusia) secara efektif untuk mengatasi gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang muncul karena tanggapan (respon). Tujuan dari manajemen stres itu sendiri adalah untuk memperbaiki kualitas hidup individu itu agar menjadi lebih baik.

semoga cerita di bawah ini memotivasi kalian agar tidak terlalu stress dengan tugas atau sifat dosen yang kurang berkenan di hati kalian para mahasiswa BK 😉

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stress Steven Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: “Seberapa berat menurut anda kira-kira segelas air ini?”
Para siswa menjawab mulai dari 200 gr sampai 500 gr.
“Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. ” kata Covey.
“Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat.”
“Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya.” lanjut Covey.
“Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi”.
Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar dan mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan sore ini, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok. Apapun beban yang ada di pundak anda hari ini, coba tinggalkan sejenak. itu salah satu cara me-manajeman stres diri anda sendiri

Tetesan Air Dapat Melubangi Batu

Kisah ini berawal dari seorang pemuda biasa yang dianggap bodoh dan terbelakang yang memiliki orangtua dengan dukungan luar biasa sehingga ketika orangtuanya terkena wabah dan hampir meninggal, mereka memberikan sebuah wejangan bagi pemuda ini, “Jika kami meninggal, maka tidak ada lagi yang akan mendukungmu, oleh karena itu kamu harus bisa mandiri. Jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, fokuslah pada apa yang kamu kuasai dan kamu akan menjadi seseorang yang disegani banyak orang.”

Pemuda ini kemudian melanjutkan usaha ayahnya sebagai tukang kayu, dan karena sejak kecil ia sudah sering membantu ayahnya dalam menilai kayu, ia memperoleh kemampuan untuk mengenali dan menilai kayu dengan baik.

Suatu hari, seorang yang tua mendatangi pemuda tersebut untuk mencari kayu yang dapat dipahat menjadi patung. Pemuda tersebut dengan cepat memberikan kayu terbaik untuk pahatan. Siapa sangka, orangtua tersebut nyatanya adalah pemahat terkenal di desa tersebut, dan karena kayu yang diperoleh dari pemuda tersebut sangatlah bagus, ia menjadi langganan yang terus membeli kayu dari sang pemuda.

Lama kelamaan, pemuda tersebut menjadi dekat dengan sang pemahat, dan ia pun memutuskan untuk belajar memahat dari sang pemahat. Namun, saat ia baru akan mulai belajar memahat, sang pemahat memberikan wejangan, “Jika ingin menjadi pemahat terbaik, jadilah seperti tetesan air yang mampu melubangi batu, fokuslah pada apa yang kamu kuasai maka kamu dapat menjadi seorang yang sukses.”

Mendengar nasihat tersebut, pemuda itu menyadari bahwa wejangan dari sang pemahat dan orangtuanya memang menjadi pedoman kesuksesan, dimana walaupun ia adalah seorang yang dulu dianggap bodoh dan terbelakang, dengan fokus dan kerja keras, ia akhirnya menjadi pemahat yang disegani di seluruh dunia.

Sebuah kisah yang dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua, yang membuktikan bahwa tidak peduli seberapa kerasnya sebuah batu, tetesan air dapat menaklukannya. Ini merupakan sebuah analogi dimana dunia ini penuh dengan ujian hidup yang begitu kerasnya, namun tetap dapat dikalahkan oleh tekad dan fokus perjuangan yang dilakukan.

Terima Dirimu Apa Adanya

Kita seringkali melihat bagaimana kehidupan orang lain terasa sangat menyenangkan dan begitu mudah untuk dijalani. Semua terlihat selalu baik-baik saja untuk mereka dan selalu terasa sangat hebat pada pandangan kita. Ini bukan saja kita rasakan pada mereka yang kita idolakan semata, namun pada orang-orang lain yang biasa saja dan berada di lingkungan terdekat kita sekalipun.

Sebenarnya memiliki perasaan seperti itu bukanlah sebuah masalah yang besar, selama hal itu masih berada dalam takaran yang wajar. Namun jika ternyata kita telah berlebihan dalam melakukannya, maka bisa saja ini menjadi sebuah hal yang mengganggu dan bahkan menjadi masalah di dalam kehidupan kita.

Jangan berlebihan ketika menilai seseorang

Di saat kita kagum pada seseorang maka seringkali kita akan menginginkan kita berada pada posisi mereka. Bahkan kita akan selalu menganggap segala yang ada pada mereka begitu menyenangkan dan hidup mereka bisa berjalan dengan lancar tanpa sebuah hambatan sama sekali. Ini adalah sebuah kesalahan, sebab pada kenyataannya setiap orang pasti memiliki masalah dan juga berbagai kendala di dalam hidup mereka, namun kita seringkali tidak melihat hal tersebut dengan nyata. Bisa saja seseorang memiliki kemampuan yang sangat baik dalam mengatasi berbagai masalahnya, hingga kita tidak pernah melihat atau mendapati kesulitan di dalam hidup mereka.

Namun di sisi lain, mungkin saja kita adalah seseorang dengan pola pikir yang sedikit sempit dan begitu mudah serta rapuh ketika dihadapkan pada berbagai masalah dan tantangan hidup. Seringkali menyerah pada keadaan dan hanya berangan-angan untuk sebuah keadaan yang jauh lebih baik dari sekarang, salah satunya dengan menempatkan diri menjadi seseorang dengan kehidupan yang lebih menyenangkan. Hal seperti inilah yang akan membuat kita tidak pernah menghadapi masalah yang kita alami, sebab kita terlalu sibuk “menikmati” apa yang orang lain miliki di dalam kehidupannya.

Mereka juga manusia biasa layaknya kita, jadi jangan beranggapan bahwa mereka selalu baik-baik saja tanpa sebuah masalah atau hambatan di dalam hidup mereka. Cara mereka menghadapai berbegai masalah tersebutlah yang kemudian menjadi sebuah nilai lebih di dalam diri mereka, yang mungkin saja tidak pernah kita tanamkan di dalam diri kita sendiri hingga saat ini. Ingatlah kamu bukan dia, jadi jangan pernah berfikir untuk memiliki jalan hidup yang sama.

Kita mampu jika kita mau

Apapun kondisi yang kita alami saat ini, tentu itu adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Tidak perlu mengeluh dan merasa diri sendiri menjadi seseorang yang paling malang di dunia ini, sehingga semua orang lain menjadi seseorang yang jauh lebih beruntung dari pada diri kita sendiri. Ini sebuah pola pikir yang salah dan harus segera ditinggalkan.

Lihatlah keberhasilan orang lain sebagai sebuah motivasi kita dalam meraih keberhasilan kita, jangan hanya memandangnya dan berangan-angan belaka jika kita menjadi mereka saat ini, tetapi di lain sisi kita tidak melakukan apapun untuk mewujudkan hal tersebut. Jika kita menginginkan sebuah keberhasilan, maka lakukan apapun yang akan membawa kita ke sana. Tidak perlu merasa rendah diri dan merasa tidak mampu untuk melakukan itu, sebab jika kita mau, maka kita akan mampu.

Hidup ini bukan keluhan atau sekedar angan-angan yang dilewatkan dalam sebuah dongeng belaka, namun ini adalah sebuah kenyataan, di mana kamu menjadi seseorang yang memiliki kehidupan pribadi yang utuh sebagaimana layaknya orang lain di sekitarmu, dan di ingatkan sekali lagi, kamu bukan dia jadi jangan pernah berfikir untuk sama dengan orang lain, karena setiap manusia punya kehidupan dan permasalahannya masing masing.

Semoga artikel ini dapatmembantu dan memberikan pelajaran kepada kita agar tidak terlena dengan kehidupan bahagia orang lain. Jika ingin mendapatkan kebahagian berjuanglah

Bersyukur akan membuatmu lebih bahagia

Kapan terakhir kali kamu berdoa dan mengucapkan rasa syukur atas semua yang kamu miliki? Mungkin bukan hanya kamu saja, ada banyak sekali orang yang bahkan lupa akan hal ini, sebab hidup kita seringkali begitu sibuk dan mengabaikan banyak hal di dalam diri kita sendiri.

Sebagian besar orang akan selalu melihat kehidupan orang lain begitu mudah, begitu menyenangkan, begitu simpel, atau bahkan begitu beruntung. Bukan hanya orang lain saja yang kadang terlihat seperti itu, namun teman atau bahkan saudara kamu sendiripun juga bisa terlihat selalu “lebih sesuatu” daripada diri kamu sendiri. Kamu akan mulai sibuk menghitung semua yang dimilikinya, semua yang ada padanya dan tidak ada pada dirimu, atau bahkan semua hal yang terlihat begitu mudah untuk selalu dilaluinya. Lalu, apakah sebenarnya kamu sendiri tidak punya pekerjaan lain, selain hanya melihat dan menilai segala sesuatu yang dimiliki oleh orang lain?

Kamu Bukan Dia atau Mereka
Tidak ada yang salah ketika kamu melihat dan menyaksikan kelebihan dan juga keberuntungan orang lain, apalagi jika ternyata kamu bisa lebih bersemangat dan terpacu untuk menjadi lebih baik lagi dari saat ini setelah menyaksikan itu semua. Namun pada kenyataannya, hal seperti ini justru seringkali membuat kamu membandingkan dan menghitung semua kekurangan yang kamu miliki, tentunya ada banyak rutukan yang akan muncul di dalam hatimu, seperti: aku tidak secantik dia, aku tidak sepintar dia, aku tidak seberuntung dia, dan masih banyak keluhan yang lainnya.

Bukannya membenahi diri atas semua hal itu, kamu justru hanya terpaku dan menbayangkan jika kamu menjadi dia, atau menjadi seseorang yang “lebih” dari kamu saat ini. Kamu akan menghabiskan banyak waktu untuk melakukan hal yang tidak perlu ini, hingga rasa benci dan kesal kerap hingga di hatimu. Bukan hanya itu saja, biasanya hal ini akan dibarengi dengan rasa kecewa yang berlebihan kepada diri sendiri, sehingga kamu mulai menyalahkan diri sendiri dan menganggap dirimu tidak cukup baik dan sebanding dengan orang lain. Pemikiran seperti ini jelas salah, dan harus segera dihentikan!

Kamulah yang Terbaik

Cobalah untuk menghargai dan menghormati dirimu sendiri, sebab kamu lebih daripada layak untuk hal seperti itu. Kamu juga bisa dan mampu untuk mengupayakan hidup serta berbagai hal lainnya yang kamu inginkan, jadi mulailah berusaha untuk segera berbenah. Pahamilah satu hal yang penting, bahwa kamu adalah pribadi terbaik dan memiliki kepribadian yang baik dan bisa mengantarkan kamu kepada langkah-langkah keberhasilanmu nanti.